SAMPIT – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) melakukan enam langkah untuk menurunkan angka stunting di wilayah tersebut. Mulai dari melakukan Bina Keluarga Balita (BKB) sampai membuat dapur sehat atasi stunting.
“Karena kebaruan program penurunan stunting yang diusung saat ini menitikberatkan pada fasilitas terlaksananya berbagai program pembangunan bagi keluarga sasaran percepatan penurunan stunting, ” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPPAPPKB) Kotim Imam Subekti, Selasa 21 Mei 2024.
Pada tahun 2023 berdasarkan hasil survei KSI kasus stunting di Kotim mengalami kenaikan sekitar 7,6 persen. Pada tahu 2022, kasus stunting tercatat 27 persen, sedangkan pada tahun 2023 lalu menjadi 35 persen. Inipun menjadi perhatian semua pihak.
Imam mengungkapkan dalam upaya percepatan penurunan stunting tersebut pihaknya melaksanakan beberapa kegiatan antara lain BKB Kit Stunting yang merupakan langkah pertama.
“Ini merupakan sarana atau alat bantu penyuluhan yang berupa seperangkat alat permainan edukatif dan media berisi materi yang dipergunakan kader untuk memberikan penyuluhan kepada keluarga yang mempunyai baduta agar meningkatkan penerapan pengasuhan 1000 HPK untuk menurunkan prevalensi stunting. Pada tahun ini akan diberikan 25 paket bkb pada 25 desa di Kabupaten Kotim, ” ucapnya.
Kemudian, pendampingan sasaran catin keluarga beresiko dan balita sstunting. Dijelaskan ini merupakan kegiatan yang dilakukan oleh tim pendamping keluarga untuk memantau perkembangan dan melakukan pendampingan kepadata calon pengantin atau pasangan usia subur, ibu hamil, ibu paskah persalinan, anak usia 0- 24 bulan serta anak usia 25 – 59 bulan.
Selainjutnya, pencatatan hasil pemantauan pendampingan sasaran beresiko stunting. Kegiatan dilakukan oleh tim pendamping keluarga kepada sasaran risiko stunting.
Tim pendamping keluarga merupakan sekelompok tenaga yang dibentuk dan terdiri dari bidan, kader TP PKK dan kader KB untuk melaksanakan pendampingan meliputi penyuluhan fasilitasi, pelayanan rujukan dan fasilitasi penerimaan program bantuan sosial. Mereka juga melakukan surveilens keluarga beresiko stunting untuk mendeteksi dini faktor-faktor risiko stunting. Dalam berbagai kondisi komposisi tim pendamping keluarga dapat disesuaikan melalui bekerja sama dengan bidang dari desa atau kelurahan lainnya atau melibatkan perawat atau tenaga kesehatan lainnya.
“Langkah ke empat itu melakukan Mini Lokarya Kecamatan, kegiatan ini pertemuan tim percepatan penurunan stunting kecamatan dalam rangka mengawal dan mengevaluasi pelaksanaan pendampingan keluarga dan hasil dari pelaksanaan dan pemantauan pendampingan keluarga di tingkat kecamatan dilaksanakan di 17 Kecamatan, ” ucapnya.
Selanjutnya, melakukan audit kasus stunting merupakan kegiatan identifikasi risiko dan penyebab resiko pada kelompok sasaran berbasis surveilans rutin atau Sumber data lainnya.
Tidak hanya itu, kegiatan dapur sehat atasi stunting (Dahsyat) juga dilakukan. Pada kegiatan ini dilakukan pelatihan untuk membuat makanan bagi ibu hamil dan balita dengan menggunakan bahan lokal untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat terutama balita.
“Hal ini merupakan upaya optimalisasi sumber daya lokal dalam rangka percepatan penurunan stunting di tingkat desa atau kelurahan. Pada tahun ini program dahsyat akan dilaksanakan di 33 Kampung KB. Kami berharap dengan upaya-upaya yang kita lakukan itu, kasus stunting di daerah kita kembali turun,” harapnya.
(dev/matakalteng)




















Discussion about this post