SAMPIT – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor mengungkapkan selain pabrik pengolahan limbah medis, wilayahnya juga memerlukan keberadaan pabrik pengolahan sampah domestik atau sampah rumah tangga. Karena produksi sampah tersebut cukup besar di daerahnya.
“Beberapa hari lalu waktu peletakan baru pertama pembangunan pabrik pengolahan limbah medis, saya minta kepada PT. Bumi Resik untuk mengatasi sampah rumah tangga di wilayah kita,” katanya, Senin, 20 Mei 2024.
PT. Bumi Resik merupakan pihak ketiga yang menggarap pembangunan pabrik pengolahan limbah medis. Kini pembangunan pabrik terus berproses dan ditargetkan beroperasi pada tahu 2025. Pembangunan pabrik pengolahan limbah medis ini untuk mengatasi masalah medis yang bercun sehingga dapat dikelola dengan benar.
Sementara saat ini, kembali menjadi permasalahan adalah meningkatnya sampah rumah tangga setiap tahunnya. Ini karena gaya hidup masyarakat saat ini, jika sebelumnya penggunaan plastik tidak seberapa, kini hampir semua kemasan baik makanan maupun minuman menggunakan bahan plastik.
Oleh sebab itu, disampaikan pabrik pengolahan sampah rumah tangga sangat diperlukan. Jika hal tersebut tidak segera diatasi, dikhawatirkan tidak ada lahan untuk tempat pembuangan akhir.
“Saya lihat di TPA kemarin sampah rumah tangga menumpuk, padahal dua tahun lalu waktu saya ke sana tidak seperti itu. Kalau dibiarkan sampai lima tahun saja akan banyak makan tempat, ” ujarnya.
Jalan Jenderal Sudirman Km 14 itu merupakan lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sebagian besar sampah yang ada merupakan sampah plastik atau rumah tangga. Saat ini telah ada beberapa titik tempat untuk pembuangan sampah di lokasi itu. Sampah menyerupai gunung plastik. Jika sampah tidak ditangani dengan baik, maka kawasan itu akan penuh dengan sampah plastik, selain itu, lingkungan juga akan tercemar karena plastik sulit diuraikan.
“Makanya saya minta agar PT. Bumi Resik membuat untuk membuat pabrik pengolahan sampah rumah tangga. Sebelumnya saya ada ngecek di Depo sampah dan saya berencana membeli alat pencacah sampah yang pengolahannya langsung di Depo. Jadi yang dibuang nanti sisa debunya. Harga alat itu mencapai Rp1, 5 miliar. Ini untuk mengatasi masalah sampah kita sementara waktu, ” ujarnya.
Diketahui sebelumnya Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim Machmoer menyebut produksi sampah domestik atau rumah tangga yang dihasilkan warga mencapai 276 meter kubik (m³) per harinya. Hal ini dikarenakan terus bertambahnya jumlah penduduk di Kotim khususnya Kota Sampit dan gaya hidup yang berubah.
Melihat produksi sampah itu, lahan yang diperlukan untuk menampung sampah domestik per harinya seluas 46 m². Sehingga sampah harus dikelola dengan baik, jika tidak akan memerlukan lahan TPA yang sangat luas.
(dev/matakalteng)





















Discussion about this post