SAMPIT – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) H Halikinnor merasa resah dengan keberadaan gelandangan dan pengemis yang ada di Kota Sampit. Pasalnya saat bulan Ramadan ini diperkirakan aktivitasnya semakin meningkatkan di perempatan lampu merah.
“Merusak pemandangan saja, apalagi mau lebaran anak jalanan dan pengemis ini semakin banyak di wilayah kita,” Halikinnor, Rabu 12 April 2023. Para pengemis dengan berbagai macam dalih seperti gaya mengamen di pinggir jalan itu dinilai memanfaatkan bulan Ramadan ini. Mirisnya lagi sebagian dari mereka merupakan anak dibawah umur dan berasal dari luar Kotim.
“Kebanyakan dari mereka itu diimpor dari daerah lain. Mereka ini meminta di lampu merah. Padahal itu berbahaya,” ujarnya. Menurutnya, agar gepeng tersebut tidak lagi beraktivitas di jalanan, masyarakat atau siapapun diminta tidak memberikan uang, makanan atau lainnya di jalanan terutama perempatan lampu merah.
Karena jika masyarakat tetap saja memberi uang atau lainnya, memberikan harapan kepada gepeng. Sementara jika masyarakat mengikuti peraturan daerah yang ada yaitu tidak memberi maka gepeng secara perlahan akan mengurangi aktivitasnya di perempatan.
“Padahal ada peraturan daerah yang mengatur tidak boleh memberikan uang atau lainnya karena ada satu tempat di pesantren atau panti asuhan. Jadi masyarakat ataupun pejabat kalau mau beramal langsung diantar ke pesantren atau panti asuhan, lebih aman dan tidak membuat resiko lakalantas,” tegasnya.
Namun diketahui, sejak Ramadan ini sebagian besar masyarakat bahkan ada pejabat yang membagikan takjil di perempatan lampu merah. Dan berdasarkan pantauan saat penertiban gepeng oleh Dinas Sosial Kotim beberapa waktu lalu, para gepeng tersebut beralasan beraktivitas di jalanan karena hanya mencari nasi atau takjil untuk berbuka.
(dev/matakalteng.com)





















Discussion about this post