SAMPIT – Pemerintah Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kewalahan dalam menangani sampah terutama sampah rumah tangga. Bupati Kotim Halikinnor mengatakan untuk menangani permasalahan sampah ini juga memerlukan anggaran yang tidak sedikit.
Sementara anggaran Kotim yang sangat terbatas ditambah pengalihan untuk menangani pandemi Covid-19 membuat pemerintah kewalahan. Pasalnya sampah yang ditangani juga cukup banyak. “Untuk wilayah ini dalam satu harinya mencapai 100 ton sampah, ini tidak sedikit dan perlu penangan ekstra,” katanya, Minggu 5 September 2021.
Meski pihaknya melalui dinas terkait sebelumnya telah membuat tempat pembuangan sampah sementara hampir di seluruh titik jalan namun tetap sampah tidak seluruhnya tertampung dan berhamburan menimbulkan lingkungan yang kurang bersih.
“Memang kita sudah ada depo tapi kalau melihat jumlah sampah itu seluas apapun tempat yang akan kami sediakan pasti penuh,” ujarnya. Sehingga agar sampah itu tidak terus menjadi momok bagi wilayah ini, pihaknya telah menggandeng pihak ketiga untuk pengelolaan sampah.
Dirinya berharap dengan adanya kerjasama ini impian Pemkab Kotim untuk mengubah sampah menjadi berkah dapat segera terwujud. Dan sampah yang awalnya merupakan momok yang mengganggu dan meresahkan dapat diubah menjadi sesuatu yang manfaat dan mempunyai nilai ekonomi.
“Harapan kami dengan adanya kerjasama ini bisa membantu pemerintah daerah untuk pengolahan sampah yang volumenya cukup besar,” harap Halikinnor. Sementara pihak ketiga yang menjalin kerjasama dengan Pemkab Kotim yaitu PT. Bumi Resik Nusantara Raya. Djaka Winarso selaku kepala PT. tersebut mengatakan sampah itu akan diolah menjadi briket dan sebagian diolah untuk BBM.
“Tapi ini akan kami lakukan studi terlebih dahulu. Kami cek dulu potensinya kalau misalnya jadi minyak laku tidak dijual, intinya yang bisa bermanfaat untuk daerah ini. Studinya diperkirakan memakan waktu 3-6 bulan,” ungkapnya. Dirinya juga menyampaikan sejauh ini, pihaknya telah melakukan pengembangan yang sama di berbagai daerah di Indonesia. Seperti, Jakarta, Kutai Timur, dan Bandung.
Sejauh ini pengembangan yang mereka lakukan di daerah tersebut berjalan lancar. Contohnya di Bandung mereka mengolah sampah menjadi batako sehingga bisa dimanfaatkan untuk bahan bangunan dan tentunya memiliki nilai ekonomi.
(dev/matakalteng.com)




















Discussion about this post