SAMPIT – Merebaknya beragam varian baru Corona memicu kekhawatiran tentang vaksin Covid-19 yang ada tidak efektif melawan mutasi hingga varian baru. Salah satunya varian baru Kent – B.1.1.7 yang pertama kali ditemukan di Negara Inggris. Bahkan varian ini sudah masuk ke Negara Indonesia, dimana varian baru ini penularannya lebih cepat.
Kepala Unit Golongan Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dr Yuendri Irawanto mengatakan, meski belum diketahui vaksin Covid-19 sekarang efektif atau tidak untuk varian baru, program vaksinasi tetap harus berjalan sukses.
“Bisa jadi vaksin tidak efektif untuk varian baru, namun jangan sampai kita terinfeksi virus lama. Sehingga vaksinasi ini tetap harus sukses,” tegasnya, Minggu 14 Maret 2021.
Bahkan lanjutnya, efektifitas antigen hanya sebesar 92,8 persen. Dimana masih ada sekian persen kemungkinan terinfeksi virus korona. Sehingga meski sudah di vaksin masyarakat tetap harus menerapkan protokol kesehatan.
“Hati-hati bagi masyarakat yang perjalanan dari Jakarta dan Tanggerang ke Sampit, bisa jadi menularkan dan kemungkinan di Sampit sudah ada varian baru B117 atau malah virus yang ada di Sampit bermutasi sendiri membentuk varian baru lagi,” ujarnya.
Menurutnya, virus ini akan terus bermutasi dan varian baru akan terus bermunculan di dunia, termasuk Indonesia. Mutasi ini terjadi seiring dengan perkembangan dan penyebaran Covid-19 yang telah menjangkiti sekitar 213 negara dan wilayah di dunia.
Untuk diketahui, mutasi virus adalah fitur replika virus yang pasti terjadi dan tidak dapat dihindari. Mutasi juga merupakan kondisi, di mana virus tersebut mengalami perubahan pada materi genetik virus.
Mutasi menjadi hal yang wajar dan bisa terjadi, karena banyak sekali faktor pendukungnya.
Bisa jadi berupa genetik ras, keturunan, patogen atau mikroorganisme penyebab penyakit lain di dalam tubuh, dan lain sebagainya.
Mutasi yang terjadi pada virus merupakan upaya penyesuaian atau adaptasi yang dilakukan virus untuk dapat bertahan hidup di sekitar inangnya (reseptor) dalam tubuh manusia.
“Selain menerapkan 4 M yakni mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mengurangi mobilisasi. Masyarakat juga diimbau agar memperbaiki sirkulasi udara udara di rumah, sehingga udara tetap segar dan sehat,” demikiannya.
(dia/matakalteng.co.id)




















Discussion about this post