SAMPIT – Bagaikan memiliki seribu nyawa dan bertulangkan besi, serta pundak yang memiliki kekuatan untuk memikul beban yang berat. Kerja tanpa merasa lelah dengan ribuan resiko serta taruhan nyawa demi tanggungjawab yang diemban. Gambaran ini layak untuk dianugerahkan kepada Juru Bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Kotim, Ir. Multazam, MT.
Wajar jika gambaran tersebut ditorehkan untuknya, sejak pandemi Covid-19 melanda Kotim pada bulan Maret 2020 lalu, ia dipercaya oleh Bupati Kotim H. Supian Hadi untuk menangani bencana non Alam ini.
“Saya dipercaya sebagai juru bicara dalam penangan Covid-19 di Kotim oleh Bupati, jadi saya akan sampaikan yang berkaitan dengan pandemi ini,” kata Multazam.

Ancaman pandemi yang selalu mengintai tidak menyurutkan semangatnya untuk setia memberikan kabar kepada masyarakat melalui Satgas tentang perkembangan Covid-19, terutama menegakkan peraturan protokol kesehatan
Meski pengakuannya hanya sekedar juru bicara, namun kenyataannya ia juga diminta untuk ikut andil dalam mengatur strategi pencegahan penyebaran Covid-19 dan memastikan roda perekonomian tetap jalan layaknya tidak terjadi pandemi.
Tentu saja hal tersebut tidak mudah dilakukan, pasalnya untuk menghindari penyebaran Covid-19 adalah menghindari terjadinya kerumunan massa seperti tempat hiburan dan pasar, sedang pusat roda perekonomian tergantung pada dua item itu.
Memberikan pengertian kepada masyarakat kata pria yang akrab dipanggil pak Mul itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak pemilik usaha yang meminta izin untuk dapat beroperasi kembali setelah sebelumnya sempat ditutup, dengan alasan agar karyawannya dapat bekerja kembali.
“Kita akan lakukan pengawasan secara ketat terhadap penerapan protokol kesehatan serta meminta pihak pengusaha hiburan dan pengelola pasar agar menerapkan protokol kesehatan juga,” papar Multazam.
Meski di tempat-tempat yang telah direkomendasikan sudah bisa beroperasi kembali, namun tim Satgas tetap memantau untuk memastikan bahwa penerapan protokol benar-benar dilakukan oleh pihak pengelola, seperti mengecek kapasitas tempat, pengaturan jarak, sistem pengelolaan dari pihak pengelola dan penyediaan tempat cuci tangan dengan penyaluran air yang bersih.
Pasalnya, jika penerapan protokol kesehatan tidak dilakukan dengan baik, dampaknya sangat besar terutama bagi kesehatan masyarakat.
Selain harus bertanggung jawab terhadap penerapan protokol kesehatan oleh pengelola hiburan dan pasar, Multazam juga harus mengingatkan masyarakat terhadap pentingnya disiplin protokol kesehatan yaitu dengan cara melakukan razia yustisi setiap hari. Pasalnya masih ada saja sebagian masyarakat atau oknum yang tidak percaya dengan adanya pandemi Covid-19, sehingga tidak menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker.
Apalagi saat ini kasus penyeberan Covid-19 mengalami peningkatan. Penyebaran tidak hanya dikalangan masyarakat biasa. Banyak pejabat di Kabupaten Kotawaringin Timur juga ikut terpapar Covid-19. Tentu peningkatan itu memunculkan kekhawatiran tersendiri bagi semua kalangan.
Hal tersebut semakin menambah resiko terpaparnya virus Corona terhadap dirinya. Demikian membuktikan bahwa virus yang muncul di Indonesia sejak pertengahan bulan Maret itu tidak pandang bulu, siapapun bisa terpapar jika lalai terhadap protokol kesehatan.
Sebagai manusia biasa, selama menangani pandemi Covid-19 ini Multazam mengaku terkadang rasa cemas dan khawatir itu sering kali muncul. Karena sifat takut, cemas dan khawatir adalah manusiawi. Apalagi jika mengingat istri dan anak-anaknya. Pasalnya pekerjaan yang ia jalani penuh dengan resiko yang taruhannya adalah nyawa, bukan hanya terhadap dirinya, namun juga terhadap keluarga tercintanya.
Apalagi saat mendengar kabar bahwa seorang yang dinilai mengerti tentang segala cara mengatasi penyakit dan merupakan garda terdepan dalam mengahadapi pandemi Covid-19, yaitu direktur RSUD dr. Murjani Sampit dinyatakan terpapar Covid-19 sebelum meninggal dunia yang kemudian dinyatakan negatif. Sontak hal tersebut membuat ia terkejut dan merasa terpukul.
Meskipun demikian, kedukaannya atas kepergian rekannya tidak membuat ia terhenti. Ia mengaku akan tetap kekeh melakukan tugas dan tanggung jawab yang telah diembankan kepadanya demi kepentingan dan keselamatan masyarakat Kotim.
“Jika ada orang yang bilang kami pahlawan, saya bilang masyarakatlah yang pahlawan, karena kunci agar penyebaran Covid-19 dapat dicegah yaitu dengan kedisiplinan masyarakat melakukan penerapan protokol kesehatan dengan baik,” tutupnya.
(Deviana adalah wartawan matakalteng.com di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur)





















Discussion about this post