SAMPIT – Operasional maskapai Super Air Jet di Bandara Haji Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dipastikan tetap mampu mengangkut penumpang dengan kapasitas penuh mencapai 180 orang. Namun sebagai konsekuensi teknis operasional penerbangan, kapasitas bagasi gratis penumpang mengalami penyesuaian.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kotim, Raihansyah mengatakan, penyesuaian kapasitas bagasi dilakukan agar pesawat tetap dapat terbang optimal dari Bandara Haji Asan Sampit tanpa mengurangi jumlah penumpang.
“Kalau untuk kapasitas penumpang tetap bisa penuh 180 orang, tetapi ada pengurangan kapasitas bagasi gratis. Awalnya 20 kilogram, kemudian turun menjadi 15 kilogram dan sekarang menjadi 10 kilogram,” kata Raihansyah, Selasa 19 Mei 2026.
Menurutnya, apabila jumlah penumpang tidak mencapai kapasitas maksimal, maka kemungkinan kapasitas bagasi dapat disesuaikan kembali.
“Kalau jumlah penumpangnya tidak penuh, otomatis bagasi bisa ditambah lagi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pengaturan kapasitas tersebut merupakan bagian dari penyesuaian teknis operasional penerbangan yang telah dibahas bersama pihak maskapai dan otoritas penerbangan.
Dalam kesempatan itu, Raihansyah juga memastikan progres operasional Super Air Jet di Bandara Haji Asan Sampit terus berjalan dan dijadwalkan mulai beroperasi pada 12 Juni 2026.
“Hari ini kami kedatangan tim Lion Group terkait progres Super Air Jet yang akan beroperasi di Bandara Haji Asan Sampit. Tadi sudah disampaikan bahwa penerbangan perdana dijadwalkan pada 12 Juni 2026,” ujarnya.
Ia meminta doa dan dukungan masyarakat agar penerbangan perdana tersebut dapat berjalan lancar tanpa hambatan.
“Mohon doa kepada seluruh masyarakat Kotim agar operasional penerbangan ini berjalan lancar dan tidak ada kendala,” katanya.
Raihansyah mengungkapkan, sebelumnya penerbangan perdana Super Air Jet sempat direncanakan pada 7 Mei 2026. Namun jadwal tersebut ditunda karena pertimbangan cuaca di wilayah Kalimantan yang dinilai kurang mendukung keselamatan penerbangan.
“Berdasarkan pertimbangan bersama AirNav Indonesia dan BMKG, kondisi cuaca pada Mei diprediksi kurang bagus untuk penerbangan di wilayah Kalimantan sehingga jadwal diundur ke Juni,” jelasnya.
Selain faktor cuaca, perubahan jadwal juga dipengaruhi penyesuaian slot penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.
Awalnya penerbangan dari Jakarta menuju Sampit direncanakan berlangsung pagi hari. Namun setelah dilakukan penyesuaian, jadwal keberangkatan berubah menjadi siang hari.
“Untuk slot terbaru, pesawat berangkat dari Jakarta sekitar pukul 11.45 WIB dan diperkirakan tiba di Sampit sekitar pukul 14.30 WIB,” katanya.
Menurut Raihansyah, jadwal tersebut masih memungkinkan penumpang untuk terhubung dengan sejumlah penerbangan lanjutan dari Jakarta. Ia menambahkan, hingga saat ini seluruh persyaratan teknis operasional penerbangan sebenarnya telah dinyatakan selesai atau clear.
“Perizinan, slot penerbangan dari Cengkareng, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, obstacle bandara hingga engineering semuanya sudah clear,” ungkapnya.
Meski demikian, pihaknya tetap akan melakukan evaluasi akhir bersama tim teknis pada awal Juni guna memastikan kesiapan operasional benar-benar mencapai 100 persen sebelum penerbangan perdana dilaksanakan.
“Nanti awal bulan akan ada tim teknis turun lagi untuk memastikan kesiapan terakhir sehingga saat penerbangan perdana tidak ada kendala,” ujarnya.
Raihansyah juga menyebut antusiasme masyarakat terhadap penerbangan baru tersebut cukup tinggi. Bahkan tiket penerbangan perdana disebut mulai banyak dipesan masyarakat.
“Informasi dari pihak Super Air Jet, tiket penerbangan perdana dari Jakarta ke Sampit sudah mulai ada yang memesan,” katanya.
Terkait harga tiket, ia menyebut tarif penerbangan saat ini masih berada di kisaran Rp1,5 juta. Namun harga tersebut tetap bergantung pada sejumlah faktor, terutama biaya operasional maskapai.
“Tarif penerbangan sangat dipengaruhi biaya operasional, terutama harga avtur dan nilai tukar dolar,” jelasnya.
Ia menyebut harga avtur di wilayah Kotim saat ini mengalami kenaikan cukup tinggi dari sekitar Rp16 ribu menjadi Rp27 ribu per liter.
Selain itu, sebagian besar kebutuhan operasional penerbangan seperti suku cadang dan peralatan menggunakan transaksi dolar Amerika Serikat sehingga turut memengaruhi harga tiket.
“Karena spare part dan kebutuhan operasional menggunakan dolar, tentu itu sangat berpengaruh terhadap tarif penerbangan,” ujarnya.
Meski begitu, Raihansyah berharap subsidi pemerintah terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor penerbangan sebesar 11 persen dapat terus berlanjut agar harga tiket tetap terjangkau bagi masyarakat.
“Mudah-mudahan subsidi dari pemerintah bisa terus berlanjut karena itu sangat membantu menekan harga tiket,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post