PALANGKA RAYA – Tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Kalimantan Tengah menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Kalteng bersama jajaran kepolisian. Kondisi tersebut mendorong penguatan sinergi lintas sektor guna membangun sistem transportasi yang lebih aman dan berkeselamatan.
Gubernur Agustiar Sabran menyebut Kalimantan Tengah sebagai provinsi terluas di Indonesia menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan transportasi dan keselamatan jalan. Menurutnya, meningkatnya aktivitas investasi di sektor perkebunan, pertambangan, dan kehutanan, ditambah mobilitas masyarakat yang terus bertambah, berdampak pada meningkatnya arus lalu lintas di berbagai wilayah.
“Peningkatan aktivitas transportasi harus dibarengi dengan sistem keselamatan yang kuat. Keselamatan lalu lintas bukan hanya urusan satu sektor, tetapi tanggung jawab bersama,” ujarnya, Minggu 17 Mei 2026 Agustiar mengungkapkan, berdasarkan data nasional sepanjang 2025 terdapat lebih dari 158 ribu kasus kecelakaan lalu lintas dengan sekitar 24 ribu korban meninggal dunia.
Sementara di Kalimantan Tengah sendiri tercatat 1.104 kasus kecelakaan, dengan sekitar 25 persen korban meninggal dunia. Dia menilai angka tersebut menjadi alarm serius, terutama karena masih banyak ruas jalan nasional maupun daerah yang rawan kecelakaan akibat kondisi infrastruktur yang belum optimal.
“Keterbatasan anggaran dan pemangkasan transfer daerah juga menjadi tantangan dalam percepatan penanganan infrastruktur jalan,” katanya. Karena itu, Gubernur meminta seluruh pemangku kepentingan memetakan berbagai persoalan lalu lintas secara rinci, mulai dari titik rawan kecelakaan, jalan rusak dan minim penerangan, kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL), hingga akses penanganan pascakecelakaan.
Ia juga menekankan pentingnya implementasi Peraturan Gubernur Kalimantan Tengah Nomor 33 Tahun 2023 tentang Rencana Aksi Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagai dasar penguatan sistem keselamatan transportasi di daerah. Menurutnya, dibutuhkan kolaborasi nyata antara pemerintah daerah, kepolisian, instansi vertikal, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat dalam membangun budaya tertib berlalu lintas.
Selain itu, Agustiar mendorong peningkatan edukasi keselamatan, penguatan penegakan hukum, perbaikan infrastruktur jalan, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam pengawasan lalu lintas. “Saya berharap forum ini menghasilkan solusi konkret untuk menciptakan sistem transportasi yang aman dan berkeselamatan di Kalimantan Tengah,” ucapnya.
Pada kesempatan yang sama, Kapolda Kalteng Irjen Pol. Iwan Kurniawan mengatakan forum tersebut menjadi bentuk komitmen bersama dalam memperkuat koordinasi seluruh pihak terkait keselamatan lalu lintas. Menurutnya, tingginya angka kecelakaan masih menjadi persoalan serius yang memerlukan penanganan menyeluruh dan berkelanjutan.
“Keselamatan berlalu lintas harus menjadi perhatian bersama. Kami ingin membangun sistem yang lebih terintegrasi, termasuk pemanfaatan teknologi menuju pelayanan publik yang cepat, transparan, dan akuntabel,” kata Kapolda. Dia berharap forum tersebut mampu melahirkan langkah strategis dan rencana aksi bersama dalam mewujudkan situasi lalu lintas yang aman, tertib, dan berkeselamatan di seluruh wilayah Kalimantan Tengah.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post