PALANGKA RAYA – Penyakit Campak masih menjadi perhatian di sejumlah daerah karena berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) jika cakupan imunisasi menurun. Meski demikian, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah memastikan hingga awal 2026 belum terdapat laporan KLB campak di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng Suyuti Syamsul mengatakan campak pada dasarnya merupakan penyakit endemis yang dapat muncul kapan saja, terutama apabila perlindungan imunisasi di masyarakat tidak optimal.
“Campak itu sebenarnya penyakit endemis, artinya setiap saat bisa ada. Namun untuk tahun 2026 ini di Kalimantan Tengah belum ada laporan kejadian luar biasa campak,” ujarnya, Rabu 11 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa potensi peningkatan kasus campak tidak terlepas dari menurunnya cakupan imunisasi anak dalam beberapa tahun terakhir.jika sebelumnya cakupan imunisasi dapat mencapai sekitar 95 persen, kini rata-rata hanya berada di kisaran 70 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat masih ada sekitar 30 persen masyarakat yang belum terlindungi sehingga berpotensi menjadi sumber penularan. “Dulu cakupan imunisasi campak bisa mencapai 95 persen. Sekarang rata-ratanya sekitar 70 persen, sehingga masih ada sekitar 30 persen yang berpotensi menularkan penyakit,” jelasnya.
Suyuti menilai penurunan tersebut salah satunya dipengaruhi maraknya informasi yang meragukan manfaat vaksin sehingga sebagian orang tua menjadi enggan memberikan imunisasi kepada anak. Padahal imunisasi merupakan langkah paling efektif untuk menekan penyebaran campak di masyarakat.
“Kalau cakupan imunisasi bisa kembali mencapai 95 persen, biasanya kasus campak akan turun drastis,” katanya. Dia menambahkan, secara umum campak merupakan penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya. Namun pada kelompok dengan daya tahan tubuh lemah, seperti anak-anak dan lansia, penyakit tersebut dapat menimbulkan komplikasi serius.
“Pada sebagian orang penyakit ini memang bisa sembuh sendiri, tetapi pada anak-anak atau orang dengan imunitas rendah bisa berdampak fatal,” ujarnya. Terkait kasus pada tahun sebelumnya, Suyuti menyebut kejadian luar biasa sempat terjadi di beberapa wilayah di Kalteng, salah satunya di Kabupaten Seruyan, meskipun pada 2026 belum ada laporan serupa.
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah daerah terus mendorong peningkatan cakupan imunisasi melalui berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk Puskesmas dan Posyandu. Selain itu, Dinas Kesehatan juga meminta puskesmas untuk kembali memaksimalkan kegiatan promosi kesehatan kepada masyarakat guna meningkatkan kesadaran pentingnya vaksinasi bagi anak.
“Kami terus mendorong puskesmas memperkuat promosi kesehatan agar masyarakat kembali memahami pentingnya imunisasi untuk melindungi kesehatan anak,” pungkasnya.
(nra/matakalteng)





















Discussion about this post