PALANGKA RAYA – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Provinsi Kalimantan Tengah menggelar kegiatan Sosialisasi Konsumen Cerdas dalam Memilih Makanan untuk Mencegah Stunting sekaligus membuka tiga pelatihan keterampilan bagi masyarakat di Aula Baperida Kalteng.
Tiga pelatihan tersebut meliputi Bimbingan Teknis bagi Pengrajin Batik, Pelatihan Peningkatan Keterampilan Tukang Las, serta Pelatihan Kerajinan Anyaman Rotan Tingkat Dasar bagi Wirausaha Baru.
Kepala Disdagperin Kalteng, Norhani, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilih makanan bernutrisi untuk mencegah stunting serta mendorong peningkatan keterampilan masyarakat agar mampu mengembangkan usaha mandiri.
“Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi. Melalui pelatihan ini, para peserta dapat memperluas keterampilan dan menambah pengetahuan untuk meningkatkan pendapatan,” ujar Norhani. Acara dibuka secara resmi oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Kalteng, Herson B. Aden, yang sekaligus menyampaikan sambutan Gubernur Kalteng.
Dalam arahannya, Herson menegaskan bahwa stunting merupakan persoalan serius yang mempengaruhi kualitas sumber daya manusia (SDM) di masa depan. Oleh karena itu, penanganannya harus melibatkan seluruh elemen, bukan hanya sektor kesehatan. “Upaya penurunan stunting tidak bisa dilakukan oleh satu instansi saja. Semua pihak, baik pemerintah pusat, daerah, hingga desa, perlu bersinergi agar hasilnya optimal,” tegasnya.
Herson mengungkapkan, angka prevalensi stunting di Kalimantan Tengah menurun 3,4 persen, dari 26,9 persen pada 2022 menjadi 23,5 persen pada 2023. Ia menekankan pentingnya penguatan surveilans e-PPGBM (Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) untuk mendapatkan data yang lebih akurat terhadap kondisi di lapangan.
Disdagperin Kalteng sendiri telah berkontribusi langsung dalam upaya percepatan penurunan stunting dengan menjadi Orang Tua Asuh Posyandu di Desa Bentot, Kabupaten Barito Timur. Dalam program tersebut, lima bayi berisiko stunting mendapatkan pendampingan intensif, dan satu di antaranya berhasil keluar dari zona stunting.
Selain edukasi gizi, Herson juga mengingatkan pentingnya menjadi konsumen cerdas, dengan memperhatikan aspek keamanan dan mutu produk. Ia menekankan beberapa prinsip, di antaranya: menegakkan hak dan kewajiban sebagai konsumen, teliti sebelum membeli, memastikan produk bertanda SNI, serta mencintai produk lokal Indonesia.
Lebih lanjut, Herson menambahkan bahwa pelatihan bagi pengrajin batik, tukang las, dan pengrajin rotan merupakan langkah strategis dalam memperkuat ekonomi kreatif dan memberdayakan pelaku usaha kecil menengah (IKM) di daerah.
“Pelatihan ini menjadi kesempatan bagi pelaku usaha untuk menambah keterampilan, memperluas jaringan, dan membangun usaha mandiri yang berdaya saing. Namun dalam menjalankan usaha, kita juga harus memperhatikan prinsip green economy, yaitu menjaga kelestarian lingkungan dan efisiensi energi,” Ujarnya
Pada akhir sambutannya, Herson mengajak seluruh peserta untuk mencintai dan menggunakan produk lokal sebagai bentuk dukungan nyata terhadap industri dalam negeri. “Mari bersama-sama mencintai dan menggunakan produk lokal Indonesia. Mulailah dari diri sendiri, keluarga, hingga instansi, agar produk bangsa kita semakin kuat di negeri sendiri,” pungkasnya.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post