PALANGKA RAYA – Dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) yang jatuh setiap tanggal 24 Maret, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah (Dinkes Kalteng) menggelar kegiatan Temu Kader Tuberkulosis tingkat provinsi. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan peran kader TBC sebagai garda terdepan dalam penanggulangan penyakit menular tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kalteng, Suyuti Syamsul, menyampaikan bahwa Tuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan besar dalam dunia kesehatan Indonesia. “Setiap tahunnya, lebih dari satu juta orang di Indonesia jatuh sakit karena TBC, dan sekitar 140 ribu jiwa meninggal dunia. Artinya, setiap jam kita kehilangan 14 orang akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan disembuhkan ini,” ungkapnya, Selasa 15 April 2025.
Ia menambahkan, meskipun capaian penemuan kasus dan pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT) di Kalimantan Tengah menunjukkan peningkatan, namun masih belum mencapai target nasional. Hal ini menjadi sinyal bahwa upaya pencegahan dan penanggulangan masih perlu ditingkatkan, terutama di tingkat komunitas.
Peringatan HTBS tahun ini mengusung tema nasional “GIATKAN: Gerakan Indonesia Akhiri TBC dengan Komitmen dan Aksi Nyata”. Tema ini menekankan pentingnya kerja kolaboratif dan aksi nyata dari seluruh elemen masyarakat untuk mengakhiri epidemi TBC di Indonesia. Tiga sub tema yang diangkat seluruhnya menitikberatkan pada penguatan peran komunitas, khususnya kader TBC.
Menurut Suyuti, dalam Buku Panduan Kader TBC Kementerian Kesehatan, kader memiliki peran strategis dalam proses penanggulangan TBC, mulai dari penjaringan terduga, edukasi masyarakat, pendampingan pengobatan, hingga pelaporan dan investigasi kontak. Oleh karena itu, kegiatan Temu Kader ini menjadi penting sebagai wadah peningkatan kapasitas, pembaruan informasi, dan tukar pengalaman antar kader.
“Kegiatan ini juga menjadi ruang strategis untuk menyusun langkah tindak lanjut yang lebih sinergis antara kader, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah. Dengan kolaborasi yang kuat, kita dapat memperluas skrining, meningkatkan keberhasilan pengobatan, dan mengurangi stigma terhadap pasien TBC di masyarakat,” jelasnya.
Suyuti mengajak seluruh pihak untuk menjadikan peringatan HTBS sebagai momentum memperkuat komitmen dan kerja sama dalam mengeliminasi TBC. “Dengan tekad bersama, kita wujudkan Indonesia bebas TBC tahun 2050 dan mempercepat eliminasi pada 2030,” pungkasnya.
(vi/matakalteng)






















Discussion about this post