PALANGKA RAYA – Literasi memiliki peran yang sangat penting dalam setiap tahap pembangunan. Melalui literasi, masyarakat dapat mengakses informasi dan pengetahuan, memperluas wawasan, dan membangun keterampilan yang memungkinkan mereka untuk menavigasi kompleksitas zaman. Namun, masih banyak desa yang di Indonesia yang terpinggirkan dari akses literasi yang memadai. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2023, terdapat 83.971 desa di seluruh Indonesia. Ironisnya, hanya 20,76% desa memiliki perpustakaan.
“Hal ini menjadi tugas bersama kita untuk bertindak lebih proaktif dan holistik dalam mendirikan serta mengembangkan perpustakaan di desa-desa,” ujar Drs. Deni Kurniadi, M.Hum, Pustakawan Ahli Utama, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, pada kegiatan Bimbingan Teknis Strategi Pengembangan Perpustakaan dan Teknologi Informasi Komunikasi dan Bimbingan Teknis Pengelola Perpustakaan Umum Tahun 2024, di salah satu hotel Palangka Raya, Rabu 22 Mei 2024.
Deni menjelaskan mencerdaskan bangsa adalah salah satu amanat dari Undang-Undang Dasar 1945 dan tentu harus dilakukan oleh pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan juga mencantumkan bahwa pemerintah harus memastikan bahwa seluruh masyarakat tanpa terkecuali mendapatkan layanan perpustakaan sebagai sumber pengetahuan dan informasi untuk membangun kehidupan yang berkualitas. Untuk itu, Perpustakaan Nasional terus mendukung peningkatan pelayanan di semua tingkatan, termasuk di desa-desa.
Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) dan Bahan Bacaan Bermutu Tahun 2024 adalah salah satu program yang dijalankan oleh Perpustakaan Nasional dalam upaya penguatan budaya baca dan literasi di desa-desa. Program ini adalah strategi pemerintah dalam memerangi rendahnya budaya literasi, inovasi, dan kreativitas. “Masih banyak tantangan dalam mencapai tujuan ini, di antaranya adalah rendahnya angka membaca selain kitab suci dan rendahnya tingkat kegemaran membaca,” ungkapnya.
Salah satu penajaman program Perpustakaan Nasional untuk meningkatkan kegemaran dan budaya literasi adalah melalui kegiatan bantuan bacaan bermutu untuk perpustakaan desa/kelurahan dan taman bacaan masyarakat. Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) adalah penguatan peran dan fungsi perpustakaan dalam memberikan pelayanan sehingga meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat pengguna perpustakaan.
Bimbingan Teknis (Bimtek) Strategi Pengembangan Perpustakaan dan Teknologi Informasi Komunikasi dan Bimtek Pengelola Perpustakaan Umum Tahun 2024 adalah upaya bersama dalam meningkatkan kapasitas para tenaga perpustakaan desa/kelurahan dan Taman Baca Masyarakat (TBM).
“Para tenaga perpustakaan harus mampu mendayagunakan koleksi perpustakaan bagi masyarakat, serta perpustakaan yang dikelola dapat mendukung berprosesnya transfer pengetahuan dan menjadikan perpustakaan sebagai wadah bagi masyarakat untuk menemukan solusi dalam permasalahan yang ada melalui membaca dan bertukar informasi,” imbuhnya.
Dalam program ini, sejumlah 2.000 pengelola perpustakaan desa/kelurahan dan TBM akan mengikuti Bimtek secara luring di 34 Provinsi di Indonesia dalam 4 gelombang yang dimulai dari tanggal 19 Mei hingga 14 Juni 2024. Untuk memperluas manfaat Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) dan Bahan Bacaan Bermutu, 8.000 pengelola perpustakaan desa/kelurahan dan TBM lainnya juga akan mengikuti Bimtek serupa mulai bulan Juni 2024 secara daring.
Bimtek akan diampu oleh para ahli Pelatih yang berasal dari seluruh Indonesia dan telah mendapatkan pelatihan khusus persiapan Bimtek SPP TIK dan Bimtek Pengelola Perpustakaan Umum. Program Bimbingan Teknis ini dianggap sebagai langkah konkret untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalisme para pengelola perpustakaan di seluruh Indonesia.
Dengan adanya bimbingan ini, perpustakaan dapat menjadi pusat belajar dan sumber informasi yang memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat. “Dukungan dari pemerintah dan semua pihak sangatlah penting dalam mencapai tujuan ini. Dengan adanya upaya bersama, kita dapat memperluas manfaat Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) dan Bahan Bacaan Bermutu hingga ke tingkat desa/kelurahan dan meningkatkan tingkat literasi di Indonesia,” pungkasnya.
(vi/matakalteng)






















Discussion about this post