PALANGKA RAYA – Berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalteng, inflasi year on year atau Y-on-Y di Provinsi Kalimantan Tengah mencapai 2,72 persen pada bulan Maret 2024. Kepala BPS Provinsi Kalteng, Eko Marsoro, mengatakan bahwa inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Kapuas sebesar 3,35 persen, sementara inflasi terendah terjadi di Sampit sebesar 2,43 persen.
Eko juga menjelaskan bahwa inflasi Y-on-Y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran, terutama kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik sebesar 5,65 persen. “Selain itu, beberapa kelompok pengeluaran lainnya juga mengalami kenaikan, seperti kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,51 persen serta kelompok kesehatan sebesar 1,16 persen,” ujar Eko, Selasa 2 April 2024.
Inflasi Y-on-Y yang terjadi tentu berdampak pada masyarakat Kalimantan Tengah, terutama bagi mereka yang berpenghasilan rendah dan menengah. Dengan adanya kenaikan harga, daya beli masyarakat menurun karena uang yang dimiliki tidak sebanding lagi dengan harga barang yang naik. Selain itu, jika inflasi berlangsung terus-menerus, maka akan terjadi ketidakstabilan ekonomi yang berpengaruh pada perekonomian nasional.
Dalam menghadapi situasi seperti ini, masyarakat perlu lebih bijak dalam membelanjakan uang agar tidak terlalu terbebani dengan kenaikan harga barang yang terus meningkat. Misalnya, dengan mengurangi penggunaan barang-barang yang kurang penting, memilih produk lokal atau daerah yang lebih murah, serta menabung untuk masa depan.
“Pemerintah juga dapat melakukan tindakan untuk mengatasi inflasi dengan cara mengendalikan harga-harga barang kebutuhan pokok, menjalankan kebijakan moneter dan fiskal yang tepat, serta mengoptimalkan produksi barang kebutuhan pokok dalam negeri untuk menekan ketergantungan pada impor,” sarannya.
Dalam kondisi seperti saat ini, ketahanan ekonomi dan keuangan pribadi menjadi hal yang sangat penting untuk dimiliki. Hal ini dapat diwujudkan dengan cara meningkatkan literasi keuangan dan investasi sehingga masyarakat dapat mengelola keuangan mereka dengan lebih baik dan mengantisipasi ketidakpastian ekonomi yang terjadi.
Eko menegaskan kenaikan inflasi Y-on-Y di Kalimantan Tengah perlu menjadi perhatian serius bagi semua pihak. Dalam menghadapi situasi seperti ini, perlu adanya kerjasama antara masyarakat dengan pemerintah dan juga sektor swasta untuk mengurangi dampak dari kenaikan harga barang. “Masyarakat perlu diingatkan bahwa ketahanan ekonomi dan keuangan pribadi sangat penting untuk dijaga guna mengantisipasi ketidakpastian ekonomi di masa depan,” pesannya.
Sementara itu, secara umum peningkatan harga komoditas dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya. Adapun beberapa komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y, antara lain beras, ikan gabus, Sigaret Kretek Mesin (SKM), telur ayam ras, tomat, gula pasir, ikan nila, udang basah, emas perhiasan, bawang putih, ikan saluang, Sigaret Kretek Tangan (SKT), makanan ringan/snack, biskuit, nasi dengan lauk, sewa rumah, susu bubuk, cabai merah, sekolah dasar, dan ketimun.
“Sedangkan, komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y, antara lain ikan papuyu, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, baju muslim wanita, bensin, daun singkong, bawang merah, sabun mandi cair, masker, ikan layang/ikan benggol, seragam sekolah anak, semen, sepatu anak, daging sapi, daging babi, tissu, sabun cair/cuci piring, tahu mentah, ikan gembung/ikan banyar/ikan gembolo/ikan aso – aso, dan ikan sepat siam,” bebernya.
Adapun komoditas yang memberikan andil/sumbangan inflasi m-to-m pada Maret 2024, antara lain daging ayam ras, beras, cabai rawit, telur ayam ras, angkutan udara, ketimun, kacang panjang, emas perhiasan, ikan papuyu, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, minyak goreng, Sigaret Kretek Mesin (SKM), ikan peda, bayam, kangkung, es, ikan patin, ikan lais, gula pasir, dan mobil. Sementara, komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi m-to-m, antara lain ikan gabus, ikan asin sepat, bawang merah, rempela hati ayam, dan ikan saluang.
“Tingkat inflasi yang meningkat dapat memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai kenaikan harga yang terjadi dan jenis komoditas apa saja yang rentan naik. Dengan begitu, masyarakat dapat mempersiapkan diri untuk mencari sumber daya lain atau menyesuaikan gaya hidup dan pengeluaran mereka,” pungkasnya.
(vi/matakalteng)






















Discussion about this post