PALANGKA RAYA – Keanekaragaman budaya Indonesia menjadi karakteristik yang membedakan Indonesia dari negara-negara lain. Khususnya di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) terdapat kebudayaan adat Dayak yang ternyata masih berlaku hingga saat ini.
Ketua Umum Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng, H Agustiar Sabran menekankan, bahwa seluruh elemen masyarakat harus terus memperkuat kearifan lokal yang ada, karena kearifan lokal adalah pandangan hidup suatu masyarakat mengenai lingkungan alam tempat mereka tinggal dan mengakar dalam kepercayaan orang-orang di daerah tersebut selama puluhan hingga ratusan tahun.
“Melalui kearifan lokal, tatanan sosial dan alam sekitar dapat tetap lestari dan terjaga,” ujarnya, Senin, 29 Januari 2024.
Agustiar Sabran menyatakan bahwa dengan menjaga keberadaan kearifan lokal yang berkembang selama ini, karakteristik masyarakat daerah setempat dapat terus terjaga. Falsafah huma betang menjadi salah satu bentuk kekayaan budaya yang harus digenggam teguh, terutama oleh generasi muda yang dapat melawan arus globalisasi.
“Falsafah huma betang menjadi salah satu bentuk tradisi adat Dayak yang harus dijaga agar tetap lestari,” imbuhnya.
Huma betang merupakan rumah panjang yang digunakan oleh suku Dayak sebagai hunian, tempat beribadah, tempat berkumpul, dan tempat menempa kebersamaan. Di dalam huma betang, terdapat pepatah atau ungkapan-ungkapan bijak yang menggambarkan norma dan nilai adat istiadat suku Dayak. Masyarakat Dayak Kalteng juga mendukung toleransi dan gotong royong dalam bingkai falsafah huma betang demi mendukung kemajuan Kalimantan Tengah.
Agustiar Sabran pun mengajak masyarakat untuk menjaga dan merawat kebersamaan yang sudah terjalin di huma betang demi memperkuat tradisi yang merupakan bagian dari kearifan lokal. Dengan menjaga kearifan lokal yang ada, maka suatu wilayah dapat terus mempertahankan jati dirinya sebagai daerah Kalteng yang kaya akan budaya warisan leluhur yang patut dilestarikan dan dijaga selama-lamanya.
Dalam era modern dan globalisasi, mempertahankan kearifan lokal dapat dianggap sebagai tantangan tersendiri. Namun, dengan semangat gotong royong dan kesadaran akan pentingnya melestarikan tradisi leluhur, kearifan lokal dapat terus lestari hingga ke generasi-generasi selanjutnya.
“Kita semua dapat belajar dari pepatah Dayak, kita harus mengingat bahwa kita adalah pengawal, pengamat, dan pewaris pelestarian kebudayaan dan kearifan lokal di setiap masyarakat adat yang ada,” pungkasnya.
(vi/matakalteng)






















Discussion about this post