PALANGKA RAYA – Kepala Bappedalitbang Kalteng, Leonard S Ampung selaku Wakil Ketua 2 Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kalteng menyampaikan, bahwa pencapaian prevalensi stunting di Bumi Tambun Bungai menempati peringkat ke 11 provinsi tertinggi di Indonesia. Tahun 2022 prevalensi stunting sebesar 26,9% mengalami penurunan 0,5% dari tahun 2021 sebesar 27,4%.
“Kita berharap untuk tahun 2023 dari hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) yang telah kita kawal bersama terdapat penurunan prevalensi stunting Provinsi Kalimantan Tengah,” harapnya, Rabu, 22 November 2023.
Dia menyampaikan, bahwa analisis pelaporan capaian indikator Rencana Aksi Daerah Kalteng dalam percepatan penurunan stunting sebagaimana terdapat dalam lampiran Peraturan Gubernur Nomor 22 tahun 2023, bahwa capaian indikator percepatan penurunan stunting berdasarkan pelaporan PPS semester I baik provinsi maupun kabupaten/kota, terdapat 46 dari 104 indikator yang capaiannya masih di bawah 50%.
Pencapaian target indikator PPS tersebut tentunya dapat menjadi konsen Tim Percepatan Penurunan Stunting untuk memaksimalkan capaian target.
“Pada semua perangkat daerah/instansi/lintas sektor yang tergabung di TPPS untuk benar-benar mencermati indikator Rencana Aksi Daerah PPS yang menjadi tanggung jawabnya, dan berkomitmen untuk memberikan dukungan anggaran serta mengimplementasikan indikator tersebut dalam bentuk program kerja dan kegiatan pada masing-masing organisasi kerjanya,” bebernya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Kalteng, Jeanny Yola Winokan mengatakan, bahwa beberapa program terkait merupakan akselerasi antara program bangga kencana dan percepatan penurunan stunting diantaranya adalah dilakukannya pendataan keluarga berisiko stunting, dimana data tersebut digunakan sebagai data sasaran intervensi program dan kegiatan, terdapat lima tematik stunting yang mendapat dukungan anggaran Bantuan Operasional Keluarga Berencana (BOKB).
“Terkait hal tersebut kembali diingatkan pada kita semua untuk dapat mengawal minimal lima kegiatan prioritas diantaranya penyediaan data keluarga berisiko stunting, pendampingan keluarga berisiko stunting, pendampingan semua calon pengantin/calon PUS, surveilans keluarga berisiko stunting dan Audit Kasus Stunting. Berbagai program tersebut terintegrasi dengaan berbagai program di BKKBN. Percepatan Penurunan Stunting di Kalteng dengan target 15,38 di tahun 2024 dapat kita wujudkan bersama,” pungkasnya.
(vi/matakalteng.com)






















Discussion about this post