PALANGKA RAYA – Kejuaraan Dunia Balap Sepeda Gunung UCI Mountain Bike Eliminator World Championship 2023 hanya tinggal menghitung hari lagi, dan segala persiapan mulai dilakukan menuju moment ini. Disebutkan Ketua Harian Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Rahmad Nasution Hamka, persiapan telah mencapai tahap akhir, di mana semua staf dan tim sedang merapikan lintasan agar siap menyambut para atlet sepeda gunung terbaik dari berbagai negara di seluruh dunia.
“Persiapan saat ini tinggal panggung utama dan merapikan lintasan balap saja. Nanti mudah-mudahan hari Kamis (9/11) seluruh persiapan sudah siap semua,” katanya, Selasa, 7 November 2023.
Terkait dengan lintasan balap, lanjut Rahmad, tidak jauh berbeda dengan pelaksanaan UCI Mountain Bike Eliminator World Cup 2022 yang digelar pada 28 Agustus 2022 lalu. Hanya saja di tahun 2023 ini, lintasan berbelok dikurangi, agar para rider dapat lebih leluasa dalam bertanding.
“Untuk tracknya tidak jauh beda, hanya ada perubahan sedikit. Kalau dulu itu lebih banyak tikungan, sekarang ini track lurusnya kita perbanyak. Karena kita ingin di track lurus itu mereka adu cepat,” ungkapnya.
Ia juga menyebutkan UCI Mountain Bike Eliminator World Championship 2023 diperkirakan akan diikuti oleh ratusan peserta dari 60 negara yang akan datang pada 10 November dan berlomba pada 12 November di Kota Palangka Raya.
“Ini adalah kejadian yang luar biasa, karena Palangka Raya menjadi tuan rumah pelaksanaan acara olahraga dunia. Pelaksanaan UCI Mountain Bike Eliminator World Championship 2023 ini berbeda dengan UCI Mountain Bike Eliminator World Cup 2022. Kalau di tahun lalu itu world cup, yang kali ini adalah world championship. Jadi para atlet yang bertanding di Kalimantan Tengah ini akan keluar sebagai juara dunia,” bebernya.
Dalam pelaksanaan event internasional ini, pihak kepolisian juga meninjau keamanan lokasi yang akan digunakan. Komisaris Besar Polisi Muhammad Rivai, Direktur Pengamanan Objek Vital (Dirpamobvit) dari Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah, menjelaskan bahwa pelaksanaan “risk assessment” atau penilaian risiko telah dilakukan untuk menentukan tingkat keamanan acara. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan bahwa acara dapat diadakan dan aman bagi rider dan penonton.
“Saat ini kita coba lihat seperti apa kesiapan panitia untuk mengantisipasi jika terjadi kecelakaan, apa-apa saja yang panitia sudah siapkan. Nanti kita akan bersama-sama memberikan masukan terkait kesiapan antisipasi bahaya dan ancaman bahaya lainnya,” jelas Rivai.
(vi/matakalteng.com)






















Discussion about this post