PALANGKA RAYA – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) Nuryakin mengingatkan bahwa pencegahan stunting membutuhkan integrasi berbagai pihak dan berbagai strategi, salah satunya dengan kampanye Nasional dan komunikasi perubahan perilaku melalui berbagai media dan kegiatan-kegiatan masyarakat.
Stunting disebabkan oleh faktor multidimensi yang meliputi praktik pengasuhan yang tidak baik, terbatasnya layanan kesehatan, kurangnya asupan makanan bergizi, serta kurangnya air bersih dan sanitasi.
“Stunting bukan semata persoalan pascakelahiran, karena jauh sebelum seorang anak lahir, proses pertumbuhan sudah terjadi sejak dalam kandungan,” ucapnya saat membuka secara resmi Seminar Kesehatan “Cegah Stunting itu Penting”, di Swiss Belhotel Danum Palangka Raya, Jumat 11 November 2022.
Sekda berharap pada usianya ke-100 tahun, Indonesia dapat memanfaatkan peluang bonus demografi dengan tersedianya Sumber Daya Manusia berkualitas, yakni SDM yang sehat, cerdas, kreatif, dan berdaya saing.
Diketahui prevalensi stunting di Kalteng tercatat turun dari 32,3% pada tahun 2019 menjadi 27,4% pada tahun 2021.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Prov. Kalteng Suyuti Syamsul saat diwawancarai Tim MMC Kalteng menerangkan, kasus stunting di Kalteng masih di atas rata-rata nasional meskipun sudah terjadi penurunan dari 34 persen ke 27 persen dalam waktu kurang lebih dua tahun.
“Kita target minimal tahun 2024 berada di angka 16 persen. Kita berharap ke depannya intervensi bisa dimulai sejak kehamilan sehingga para ibu hamil paham tentang pencegahan stunting,” ungkapnya.
Suyuti juga berharap semua pemangku kepentingan dari dinas-dinas terkait bisa saling bersinergi agar target di tahun 2024 tersebut bisa tercapai.
(vi/matakalteng.com)






















Discussion about this post