PALANGKA RAYA – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mengajak kalangan pemuda untuk membangun keharmonisan dan sinergi dalam menghadapi ancaman persatuan nasional yang belakangan ini muncul ke permukaan.
Ajakan ini disampaikan melalui diskusi santai Sarasehan Milenial dengan mengundang organisasi mahasiswa pemuda lintas agama dan budaya dengan menghadirkan 2 pengamat politik dan budaya, yakni Hakim Syah dan Paulus Alfons Danar di salah satu cafe di Kota Palangka Raya.
“Misalnya, hampir setiap hari kita disuguhi ujuran-ujaran yang sangat berpotensi memecah belah. Bahkan nasionalisme dan agama saling dibenturkan agar masyarakat tidak lagi percaya pada negara “ungkap Ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Kalteng dalam rilis yang diterima wartawan matakalteng.com
Menurut Surya, Hari Kesaktian Pancasila tidak disia-siakan PMII Kalteng hanya dengan jargon-jargon saja tetapi mengajak semua berbagai organisasi kepemudaan se-Kalteng untuk duduk bersama, berdialog, mereflesikan Pancasila. Sarasehan bertema “Republik Bhineka Tunggal Ika: Menggali Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Narasi Kehidupan Kebangsaan.”
“Kita hari ini dihadapkan dengan ancaman dan tantangan persatuan di Indonesia. Oleh Karena itu pemuda harus jadi penggerak dan pelopor masyarakat untuk mengamalkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal IKA dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Surya.
Sarasehan ini menghadirkan akademisi, aktivis, sekaligus budayawan sebagai narasumber. Hakim Syah salah satu narasumber menyampaikan bahwa perbedaan adalah rahmat yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita.
“Itulah kekayaan kita yang harus kita selalu jaga. Perbedaan identitas seharusnya tidak mengedepankan untuk berlomba siapa yang lebih baik atau mulia, tetapi berlomba saling menjaga persatuan dengan saling mengenali dan menerima perbedaan,” ucap Hakim Syah.
(nt/matakalteng.com)
















Discussion about this post